Modus Lama, Kemasan Baru
Dulu iklan judi online gampang dikenali. Tampilannya norak, ada gambar koin emas berjatuhan, tulisan “menang 100 juta” dengan font kuning mencolok. Sekarang beda cerita. Berdasarkan investigasi AFP yang dirilis November 2025, iklan judi online dan judi konvensional mulai menyamar menjadi iklan game hingga pengobatan alternatif di sejumlah media sosial di Indonesia, seperti Facebook dan Instagram.
Triknya sederhana tapi efektif. Postingan dibuat seolah mempromosikan game mobile atau obat herbal untuk diabetes, lengkap dengan visual yang terlihat aman. Sejumlah unggahan terlihat seperti promosi permainan atau informasi kesehatan, misalnya terkait diabetes, namun ketika diklik, pengguna justru diarahkan menuju situs judi online. Begitu masuk, barulah ketahuan belangnya.
Kenapa Gamer Jadi Sasaran Empuk?
Ini bukan kebetulan. AFP menelusuri pola penyebarannya dan menemukan bahwa iklan-iklan berbayar tersebut menyebar ke jutaan pengguna Indonesia, dengan menyerang pengguna dengan minat tertentu. Salah satu korban yang diwawancarai, seorang gamer berusia 32 tahun bernama samaran Zee, mengaku “Ini semakin mengganggu” saat menemukan iklan semacam itu di Instagram miliknya.
Yang bikin resah, bukan cuma orang dewasa yang kena sasaran. Korban lain, Moli, menyebut dirinya telah berkali-kali melaporkan iklan semacam itu, tetapi promosi tersebut tetap muncul kembali. Laporan dari orang tua di Jakarta pada Mei 2026 juga menguatkan pola ini. Justru di game-game kecil seperti puzzle atau solitaire, bukan di Roblox atau Mobile Legends, iklan mencurigakan itu paling sering nongol.
Skala masalahnya juga bukan main-main. Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat bahwa dalam periode 20 Oktober 2024 hingga 16 September 2025, Meta jadi media sosial terbanyak dengan konten judi online, dengan Meta memiliki 94.004 konten. Angka itu jauh melampaui platform lain. Beberapa laporan korban bahkan menyebut tautan yang dibagikan berujung ke situs semacam bk8 link yang dikemas seolah promo game atau bonus kesehatan, padahal ujung-ujungnya meja taruhan digital.
Peran Influencer dan Program Afiliasi
Ironisnya, bukan cuma iklan berbayar yang jadi pintu masuk. Komisi afiliasi lewat influencer juga marak. Di Kendari, seorang remaja perempuan berusia 16 tahun sempat diamankan polisi karena terbukti menjadi influencer atau endorser situs judi online huskyslotxyz.com sejak Mei 2025. Bayarannya tidak besar, ia menerima imbalan sebesar Rp600.000 per bulan dengan tugas memposting tautan situs tersebut melalui Instagram Story, tapi cukup untuk membuatnya terjerat kasus pidana.
Pemerintah tidak tinggal diam soal ini. Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital, Alexander Sabar, bahkan sudah memberi peringatan keras ke platform yang kecolongan. “Jika pelanggaran berulang dan tidak ditindaklanjuti, kami akan melakukan penegakan sesuai aturan, termasuk kemungkinan pemutusan akses,” katanya. Penindakan terhadap pelaku lapangan pun sudah berjalan. Sepanjang 2024 saja, penegakan hukum juga ditingkatkan, termasuk penangkapan sedikitnya 85 influencer karena mempromosikan judi online, dan pelaku promosi judol berkedok iklan bisa dipidana hingga 10 tahun penjara.
Kenali Ciri Sebelum Terlanjur Klik
Ada pola yang bisa dipegang. Kalau sebuah iklan game atau obat herbal muncul dari akun yang baru dibuat, minim interaksi organik, tapi rajin promosi “bonus member baru” atau “garansi kekalahan”, itu tanda bahaya. Jangan klik link di bio selebgram yang menjanjikan cuan instan dari “kode referral” tertentu juga. Ingat, di balik tampilan yang terlihat lucu dan tidak berbahaya, bisa saja ada sistem taruhan yang ujungnya menguras rekening.
Laporkan, Jangan Cuma Skip
Kebiasaan menekan tombol “skip” saat iklan mencurigakan muncul memang wajar. Tapi melaporkan konten lewat fitur