Lingkaran Setan Judi Online dan Utang Pinjol Ilegal

Dua Lubang yang Saling Menyambung

Orang jarang sadar kalau judi online dan pinjaman online itu satu paket. Kalah main, butuh modal lagi, pinjam di aplikasi yang bunganya mencekik, lalu pinjam lagi untuk menutup pinjaman pertama. Begitu seterusnya sampai gaji sebulan tidak cukup lagi untuk bayar cicilan, apalagi makan.

71,6% masyarakat yang melakukan judi online berpenghasilan di bawah Rp5 juta dan memiliki pinjaman di luar pinjaman perbankan, koperasi, dan kartu kredit. Pada tahun 2023 dari total 3,7 juta pemain, 2,4 juta di antaranya memiliki pinjaman tersebut, angka ini naik pada tahun 2024 menjadi 8,8 juta pemain dengan 3,8 juta di antaranya memiliki pinjaman. Jadi bukan kebetulan kalau dua masalah ini sering muncul bareng di satu rumah tangga yang sama.

Angka yang Bikin Geleng Kepala

PPATK sempat menghitung potensi perputaran uangnya. Kepala PPATK menyoroti besarnya ancaman kejahatan siber terhadap stabilitas ekonomi nasional, tanpa intervensi serius perputaran dana dari perjudian online diperkirakan bisa mencapai Rp1.200 triliun sampai akhir tahun 2025. Angka segede itu bukan cuma statistik di atas kertas, itu uang yang sebagian besar keluar dari dompet orang-orang yang sebenarnya pas-pasan.

Yang lebih bikin resah, deposit anak di bawah umur juga tercatat rapi. Data kuartal satu tahun 2025 yang dikumpulkan PPATK menunjukkan jumlah deposit yang dilakukan oleh pemain berusia 10-16 tahun lebih dari Rp2,2 miliar, usia 17-19 tahun mencapai Rp47,9 miliar, dan deposit tertinggi ada di usia 31-40 tahun mencapai Rp2,5 triliun. Berarti dari anak SD sampai bapak-bapak usia produktif, semua kena.

Utang Pinjol yang Terus Membengkak

Soal pinjol sendiri, trennya juga tidak kalah menakutkan. Data terbaru menunjukkan total utang masyarakat telah menyentuh angka Rp106,94 triliun. Memang tidak semua utang itu berasal dari judi online, tapi pola yang muncul di lapangan hampir selalu sama. Orang kalah main, lalu buka aplikasi pinjaman cepat tanpa pikir panjang soal bunga harian.

Kenapa Linknya Terus Berganti Nama

Satu hal yang membuat lingkaran ini susah putus adalah betapa gampangnya platform judi berganti wajah. Situs diblokir hari ini, besok muncul lagi dengan nama baru, kadang cuma beda satu huruf. Pola ini juga berlaku di dunia taruhan internasional seperti yang dipromosikan lewat bk8 link, yang terus beredar di grup Telegram dan iklan media sosial meski domain sebelumnya sudah dicabut aksesnya. Buat pemain yang sedang nekat cari modal lagi, link semacam ini justru jadi pintu masuk baru menuju utang yang lebih dalam, bukan jalan keluar.

Empat Fase yang Selalu Berulang

Psikolog RSIY PDHI Yogyakarta, Cania Mutia, pernah menjelaskan pola adiksi judi online yang hampir selalu sama pada setiap pemain. Setidaknya ada empat siklus adiksi judi, pertama winning phase yang merupakan kemenangan awal memberi euforia dan keyakinan berlebih, kedua losing phase yaitu kekalahan memicu keinginan balas dendam, ketiga desperation phase, kecanduan berat, penjudi semakin terjerat. Fase terakhir baru muncul setelah semuanya terlanjur hancur, saat orang mulai sadar tapi utangnya sudah menumpuk ke mana-mana.

Pola empat fase ini penting dipahami karena menjelaskan kenapa larangan dan blokir saja tidak pernah cukup. Orang yang sudah masuk fase desperation biasanya tidak lagi berpikir rasional soal risiko hukum atau bunga pinjaman. Yang ada di kepala cuma satu, menang sekali lagi untuk menutup semua kerugian.

Dampak yang Merembet ke Rumah Tangga

Di Kabupaten Bandung Barat, Pengadilan Agama mencatat lonjakan perkara perceraian yang sebagian besar dipicu tekanan ekonomi. Persoalan ekonomi juga kerap berkelindan dengan munculnya kebiasaan judi daring dan penggunaan pinjaman daring, kondisi tersebut dapat memperburuk keuangan keluarga hingga memicu pertengkaran berkepanjangan. Jadi ini bukan cuma soal angka di laporan PPATK, tapi soal rumah tangga nyata yang akhirnya bubar gara-gara dua kombinasi maut ini.

Kalau ada yang berpikir masalah ini cuma menimpa orang yang kurang edukasi finansial, data membuktikan sebaliknya. Pemain dari kalangan menengah atas pun ada, cuma nominal taruhannya yang beda jauh, dari ratusan ribu sampai puluhan miliar dalam sekali transaksi. Jerat utang pinjol memang lebih sering menimpa kelas menengah bawah, tapi kehancuran akibat judi online tidak pandang kelas sosial.